Melihat perkembangan Muhammadiyah dikota Tarakan, dari pengalaman saya yang beberapa kali berkunjung dikompleks mereka, jelas sekali terlihat kemajuan dakwah rekan-rekan disana yang didukung banyak lini. Dukungan sumber daya manusia, profesionalisme keanggotaan dan pengkaderan, dan yang paling menonjol adalah dukungan anggota DPRD dari PAN. Beberapa rekan disana pernah memberitahukan dukungan dari Aleg PAN yang memang terdiri dari kader-kader Muhammadiyah, sangat membantu terutama dukungan finansial. Tidak heran jika fasilitas amal usaha Muhammadiyah di Tarakan lumayan lengkap, contoh kecil saja sekolah SMA Muhammadiyah 1 Tarakan yang telah menjadi sekolah favorit warga Tarakan. Dukungan Aleg PAN juga tidak hanya pada Muhammadiyah dan Amal Usahanya saja, tetapi pada Organisasi Otonom Muhammadiyah seperti IMM, IPM, Tapak Suci, 'Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah. Tidak masuk akal memang jika proses dakwah Muhammadiyah di Tarakan, terutama masuknya kader mereka menjadi anggota DPRD, tanpa melalui dukungan penuh dan menyeluruh dari pengurus dan pimpinan Muhammadiyah, Organisasi Otonom-nya, serta seluruh anggota dan simpatisan. Dukungan penuh dan 'tahu diri' itulah yang menghasilkan balasan yang diharapkan juga, ibarat konsep teori sederhana 'Sebab-Akibat'.
KONTRAS DI NUNUKAN.
Begitu juga ketika dukungannya justru setengah-setengah, apalagi jika dibiarkan pecah dengan alasan yang tidak STRATEGIS. Terpecahnya dukungan akibatnya tidak pernah menguntungkan malah merugikan diri sendiri. Dalam hal Pemilu DPRD, tidak ada namanya kepastian berdasarkan dugaan, apalagi jika tidak memiliki data Real lapangan yang mendukung dugaan. Politik adalah dimana kepentingan selaras dengan prioritas yang terkecil dahulu, bukan kepentingan dan prioritas terbesar, apalagi jika tidak memiliki pondasi untuk menopang yang besar, tidak mengerti politik dan Syiyasah. Lebih-lebih lagi jika ngotot merasa tidak bersalah dan merasa dugaannya sudah tepat tapi masih mencari kambing hitam untuk dijadikan alasan, tidak bertanggung jawab.
Butuh pengajaran dan kritik untuk menyadari teori Sebab-Akibat, lebih-lebih lagi jika harus bersentuhan dengan medan politik yang selalu ada intrik strategis yang menghantam salah satu pihak. Tidak peduli apakah pihak lain terpecah dengan Vote-getter yang penting bisa jadi anggota DPRD rakus jabatan. Banyak pihak (termasuk saya) yang alergi dengan kepentingan Parpol luar yang merusak kepentingan organisasi.
Sunday, April 19, 2009
Wednesday, April 8, 2009
EDUCATION SYSTEM : Darkside Pendidikan Malaysia
Artikel ini cukup pas bagi para pengelola pendidikan terutama di Nunukan, artikel ini aslinya adalah kumpulan beberapa tulisan, komentar, curhat, saran, kritik, gagasan dari siswa-siswi yang saya temui diforum diskusi online.
"Sistem pendidikan di Malaysia menyampah!" setidaknya itulah yang dikatakan siswa-siswi Malaysia Secondary-School yang saya temui di internet. Seburuk apakah sistem mereka? Aku kira sistem mereka malah lebih bagus daripada sistem pendidikan kita. Sebenarnya sistem pendidikan di Malaysia sudah lumayan sempurna, hanya saja dari apa yang saya perhatikan dari sudut pandang saya sendiri, sebenarnya sebagian siswa-siswi di Malaysia terlalu kritis (atau mungkin terlalu pintar) jika dibandingkan siswa-siswi kita. Sikap 'antipati' katakanlah demikian, dibangun dan muncul akibat bebasnya mereka dalam mengambil dan mengolah informasi dari luar. Kebebasan belajar dari dunia luar tersebut benar-benar telah membentuk pola pikir dan standarisasi mereka sendiri. Berbeda dengan siswa-siswi kita yang kebebasan belajarnya DIBATASI oleh hal-hal yang tidak kita sangka. Contoh saja, sarana belajar dan mencari informasi, sarana fisik kita saja sangat terbatas sekali, tidak ada perpustakan yang memadai dan berjalan seperti yang diharapkan. Lalu akses keinformasi dunia luar yang terbatas seperti internet, bahkan beberapa sekolah SMP di Nunukan harus menyewa sebuah Warnet umum sebagai laboratorium komputer dan internet sekolah mereka. Bukan saja tidak etis, tapi lumayan mengganggu pengguna Warnet dari kalangan umum yang terpaksa bersabar karena Warnetnya penuh. Ada sekolah yang memiliki laboratorium komputer dan internet tapi masih terkendala juga dengan guru pengajar dan pemeliharaan lab, boleh dikatakan tidak maksimal. Kecepatan jaringan internet di Nunukan juga menjadi tolok ukur, bandingkan saja dengan kecepatan internet di Malaysia yang 200 persen lebih cepat daripada jaringan internet yang kita punya. Selain sarana fisik, penguasaan bahasa asing terutama bahasa inggris ikut berperan besar dalam 'mencerdaskan' siswa-siswi Malaysia. Jika anda belum tau, artikel yang berbahasa inggris di internet jauh lebih banyak dan jauh lebih berkualitas dari segi informasi dan jurnalismenya. Tidak ada satupun siswa-siswi Malaysia dari Secondary-School (SMP dan SMA atau yang sederajat) yang tidak paham bahasa inggris. Seluruh sarana fisik dan informasi tersebut sangat mudah mereka dapatkan sehari-hari dan dicerna dengan sangat cepat pula.
Namun ternyata ada akibatnya tersendiri dari itu semua, katakanlah 'efek samping'. Seorang murid menjadi lebih pintar daripada gurunya, itu cukup memalukan walaupun sang guru telah magang di universitas khusus guru pengajar. Banyak juga siswa-siswi Malaysia yang mengeluhkan hal itu, mereka harus belajar sesuai dengan apa yang diinginkan gurunya saja, topik pembahasan tidak boleh bias keluar dari buku pelajaran ataupun mengambil perbandingan diluar dari apa yang diajarkan dibuku pelajaran. Semua berlangsung kaku seperti sekelompok robot yang dikumpulkan dalam satu ruangan lalu disuntik dengan data-data informasi dan perintah yang tidak boleh dipilah-pilah. Semua harus dicerna hanya dengan cara MENGHAFAL. Tidak boleh mendiskusikan topik pelajaran kemasalah-masalah lain dan melakukan penelitian pribadi, karena gurunya tidak pandai melakukan hal itu maka itu dilarang, hanya boleh menghafal apa yang tertulis dibuku dan yang diterangkan oleh guru saja. Jika ujian Essay, jawabannya harus sama seperti yang tertulis dibuku termasuk tanda koma dan titiknya, barulah bisa dapat nilai A (nilai tertinggi). Jika jawabannya tidak sesuai dengan apa yang tertulis dibuku walaupun maksud harfiahnya hampir sama, hanya diberi nilai B atau lebih rendah. Jadi mereka bangun pagi hari lalu sarapan dan kadang tidak sempat, pergi kesekolah dan jika datang lebih awal maka mereka menyempatkan bergosip dan berdiskusi. Jika guru datang semua masuk kelas dan memberi hormat kepada guru lalu mendengarkan ceramahnya yang membosankan sambil menunggu jam istirahat pertama yang dinanti-nanti. Bel berbunyi tanda istirahat seluruh siswa kembali segar bugar menanti aba-aba dari gurunya untuk keluar kelas dan istirahat. Setelah selesai jam istirahat pertama, kembali masuk 'kandang' dan mendengarkan lanjutan ceramah guru yang tidak lebih pintar daripada muridnya, sambil menanti-nanti jam istirahat kedua. Bel istirahat kedua berbunyi, semua siswa kembali girang sambil ngerumpi dan ngegosip satu dengan lainnya, lalu masuk kembali kekelas dan membuka buku lalu membaca, menulis dan tidak lupa menghafal sambil tidak sabar menunggu bel waktu pulang berbunyi. Dan itu rutin dilakukan hampir setiap hari. Jika ujian telah selesai, seluruh pelajaran yang sudah setengah mati dihafal lalu dikeluarkan kembali dan diberikan kepada guru. Hampir tidak ada satu pelajaran pun yang merubah moral dan tingkah laku siswa.
Begitulah kira-kira kondisi dan situasi sebenar yang terjadi dibeberapa siswa-siswi Malaysia, ternyata kurang lebih dengan kondisi dan situasi di sekolah-sekolah kita. Memberikan pendidikan dengan melibatkan siswa-siswi aktif dalam diskusi pelajaran sekolah adalah salah satu cara mengasah pemikiran kritis para siswa, sehingga ketika pemikiran kritis mereka telah terbentuk dengan baik dan disetarakan dengan moral mereka, maka kemampuan mencerna dan memahami pelajaran apapun akan semakin meningkat, bahkan tidak hanya pelajaran tapi peristiwa disekeliling mereka juga. Setidaknya seperti itulah solusi yang ditawarkan oleh siswa-siswi asal Malaysia. Mungkin dengan sedikit tambahan berupa mencari dan mengorientasi guru-guru pengajar yang mampu melaksanakan itu semua. Kalau anda melirik saya, maaf saja jika saya menolak karena walaupun sistem tersebut ingin dijalankan tetapi ternyata yang memegang kendali tidak mau memberikan kerjasama penuh, sama saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)


